Pages

desa

Diposting oleh Sriyana on Jumat, 12 Agustus 2011

Sadajiwa Malam Budaya:

Mandiri Ditengah Pengabaian Negara

Image  “Malam ini dengan pakaian adat kita ingin melawan, dan mempertahankan budaya dan identitas kita dari gerusan budaya global yang telah menghabisi kearifan lokal, dan disisi yang lain memanfaatkannya dengan ekploitatif untuk dijadikan komoditas pasar.” Dwi Astuti, Direktur ekskutif Bina Desa. Hal itu disampaikan Dwi Astuti dalam sambutan pembukaannya di malam budaya bersama CO dan FO dalam rangka refleksi nasional Bina Desa, di Jakarta.

Diantara sekitar 200an orang laki-laki dan perempuan yang terdiri dari CO, FO, dan staf sekertariat Bina Desa, Dwi Astuti menyatakan acara malam budaya yang merupakan acara penututdimana para peserta menggunakan pakain adatnya masing-masing, tidak semata-mata sebagai kegiatan fashion atau hal yang dangkal saja. “Mala mini kita dengan acara budaya mengenakan pakain adat, mempersembahkan nyanyian atau tarian dari adat masing masing dairah, merupakan sebuah bentuk perlawanan.”

Ia juga menyatakan bahwa refleksi tentang cita cita bersama Bina Desa akan KSP (Komunitas Swabina Pedesaan) dimana kemandirian manusia-manusia konkrit di pedesaan, pembebasan rakyat jelata dari keterpinggirannya  merupakan agenda bersama yang patut diperjungakan ditengah abainya Negara dari tanggungjawab sosial, ekonomi, politik, dan budaya kepada rakyatnya. “ketika Negara meninggalkan kita, dengan KSP ini kita sudah berkomitmen untuk maju mandiri dengan langkah sendiri. “ tegas Direktur Ekskutif Bina Desa itu.

Dalam agenda malam budaya tersebut, komunitas dampingan bina desa yang datang dari Jawa Timur, Aceh, Sulawesi, Sumatera, Jawa Barat, dan jawa Tengah, mementasakan nyanyi dan tari dari dairah masing-masing. Dari komunitas aceh misalnya, dengan pakain lengkap khas adat Aceh, mereka menyanyikan lagu Anak Yatim (dalam bahasa aceh) untuk mengenang kekejian Negara selama Aceh dijadikan Dairah Operasi Militer (DOM), dan tak kepalang hal itu telah menjadikan ribuan anak aceh menjadi yatim piatu.

“Lagu ini bercerita tentang ribuan anak di Aceh yang menjadi yatim karena orang tuanya di bunuh atau menjadi korban pelanggaran Hak Asasi Manusia.” Ujar Tenku dalam pengantarnya sebelum membawakan lagu. “namun demikian ribuan anak Aceh akan terus berdoa semoga Indonesia diselamatkan dan jangan lagi berlarut pembantaian berdarah dan pelanggaran HAM yang keji dan menyakiti. “ pungkasnya.

Acara malam itu ditutup dengan doa bersama dan bertukar kado sesame peserta untuk mengenang malam yang istimewa dimana Indonesia tampak nyata dari tatapan mereka, tatapan mata orang-orang desa; para penggarap ladang dan pekerja keras. Merdesa…***

 
Read More